Pages

12.11.09

Pengorbanan

Pernakah berkorban demi mendapatkan apa yang anda inginkan ? Berkorban atau ini pilihan hidup yang kita jalanin. Berkorban dengan ketulusan benar ada ga sih? Atau karena hanya untuk menginginkan sesuatu, apapun kita lakukan terlepas itu benar-benar tulus atau ga. Dibalikin ke masing-masing orang kali ya.

Mengorbankan waktu, tenaga, pikiran, jiwa, dan uang kita untuk mendapatkan sesuatu yang membuat kita bahagia memang sering dilakukan banyak orang, apakah itu untuk urusan pribadi atau bukan. Ya kalau untuk urusan pribadi jatuh-jatunya apalagi ya kalau ga percintaan. Hmmm..lagi-lagi cinta.

Ada seorang teman gue sebut namanya Ms. S, dia punya pacar yang akhirnya disetujuin juga sama orang tuanya. Nah si pacar ini rumahnya deket-deket bandara Soekarno sana dan kerjanya juga deket situ. Sedangkan teman gue itu kerja di Sudirman yang notabene jauh juga dan rumahnya di Ciputat. Tapi dengan setianya pacarnya selalu menjemput dia hampir tiap hari. Hmmm..pengorbanan banget gak sih ?? Pasti banyak banget yang melakukannya, bela-belain untuk bisa membahagiakan orang yang kita sayangin.

Lain lagi cerita Popo, dia pacaran da lumayan lama banget, malah hampir nikah, tapi Tuhan berkehendak lain, yaitu ternyata orang tuanya tidak setuju. Di budaya Cina, ada suatu budaya, entah apa namanya, apakah si ini cocok dengan si itu. Kebetulan keluarga pacarnya *pada saat itu* sangat percaya yang seperti itu dan tidak merestui hubungan tersebut. Akhirnya si Popo lebih baik mengalah karena dia berpikir restu orang tua lebih penting walau mereka saling cinta. Walau berat melepasnya dan butuh waktu tapi semua pengorbanan yang dilakukan Popo bisa melegakan semua pihak. Ya mengalah bukan berarti kalah, itulah yang di sebut pengorbanan *kata Popo*. Selama pilihan untuk berkorban baik untuk kedua belah pihak, kenapa gak dilakukan??

Temen gue lebih ekstrim lagi, justru dia lebih berkorban dan nekad *ya gue lebih senang nyebutnya itu*Dia akhirnya menikah dengan suaminya yang tidak direstui oleh orang tuanya dan benar-benar tidak dihadiri oleh keluarga dan saudara kandungnya. Padahal dulu sebelum memutuskan menikah dia tahu konsekuensinya bahwa hubungannya tidak direstui. Ini bukan karena teman gue sifatnya yang aneh atau kenapa gitu, tapi ini sebenarnya masalah orang tua suaminya yang memang punya latar belakang tidak menyenangkan. Orang tuanya bercerai dan ibu si suaminya itu punya ‘trauma’ dan tidak membolehkan anak lelakinya untuk menikah. Alasannya karena dia takut ditinggalin seperti dia ditinggal suaminya. Ha, cukup Parno kali tuh si ibunya. Tapi, itulah hidup. Kalo gue pikir sebenarnya entah sama temen gue atau tidak si suaminya temen gue itu tetap tidak akan direstui, jadi kalau dia melangkah lebih lanjut lagi gue ajungin jempol banget. Tapi temen gue nerima banget dengan keputusan itu. Selain itu juga selama mereka pacaran dan akhirnya menikah hubungan mereka tuh hubungan jarak jauh, teman gue di Jakarta sedangkan dia di luar kota. Temen gue melihat bahwa hubungan yang udah mereka lakukan dengan berkorban waktu yang sedikit *ketemuannya*, mengeluarkan banyak biaya *ya karena DLR ya* dan dia sudah merasa nyaman masa iya harus berakhir sia-sia, toh kalau memang suaminya masih bisa melanjutkan toh gpp. Agama juga tidak melarang, justru membolehkan. Walau tidak ada jaminan ke depannya bagaimana, tetap saja dia berani untuk melangkah dan mengorbankan perasaannya terhadap mertuanya itu. Salut lah gue, dia bisa sampai sejauh itu. Rock n roll banget emang ni orang, hehehe.

Ada lagi Mrs P. dia pacaran da lumayan lama, kira-kira 7 tahun, mereka berkembang menuju dewasa bersama-sama, sampai akhirnya PUTUS juga *mungkin tidak berjodoh ya* Ketemulah akhirnya sama si suaminya yang sekarang. Mereka berdua beda agama. Tapi dengan keyakinan hati bahwa akan lebih baik jika mereka ‘sama’ dengan tidak ada paksaan, tekanan dia berpindah agama. Sebenarnya katanya dia seperti terpanggil untuk pindah agama. Apapun alasannya saat itu, semua adalah perjalanan spiritual manusia yang nantinya mesti dipertanggung jawabkan dan lu merasa nyaman dengan itu. Dia menurut gue sampe ‘rela’ dan ‘ikhlas’ mengorbankan itu untuk masa depan yang lebih baik untuk satu tujuan.

Ya kalau gue pribadi belum pernah sampai ekstrim gitu ya berkorban sampai segitunya, standar-standar aja kayanya. Kalau berkorban waktu, perasaan, biaya, pikiran kayanya itu sangat biasa ya, ga pernah ampe segitunya banget. Ga tau deh orang lain menilainya. Hehehe.

Hidup itu penuh dengan perjuangan, sama halnya dengan cinta dimana butuh dengan pengorbanan di dalamnya.